Kamis, 19 November 2009

Be Prepared!


"What you need on any production is a happy crew, and the only way to do that is with money and food." Roydon Johnson.

Rabu, 28 Oktober 2009

Kita Punya Bendera di Metro TV

Kita Punya Bendera
Metro TV
31 Oktober 2009
21:30

Kamis, 10 September 2009

Menulis Sarinah


Producers Yan Senjaya & Karr Kwee | Director Karr Kwee |
Writers Steven Purba, Astrid Reza, Giat Wahyudi & Karr Kwee |
Art Director Samuel Wattimena | Director of Photography Roydon Johnson

**
Hari itu saya datang ke kantor untuk ambil naskah yang sudah cantik dengan covernya. Aneh juga rasanya liat 'buku' rapi ini, yang selama ini dipreteli halaman demi halamannya. Menulis Sarinah membawa saya ke pengalaman menulis dengan kolaborasi yang mengasyikkan. Sarinah adalah sebuah perjalanan kreatif yang amat sulit bila dijalani sendiri.

Minggu, 06 September 2009

Tema-tema Pi

Walau terlambat membaca buku ini (buku ini ada di rak sejak Oktober 2006), akhirnya sampai juga di halaman terakhir. Saya lahap buku ini kurang dari sebulan, membacanya nyaris setiap malam. Ada beberapa bagian yang saya sertakan disini (Spoiler Alert!) jadi kalau yang belum baca dan kepengen baca, sebaiknya jangan teruskan posting ini.

Saya nggak rutin membaca novel, tapi Life of Pi memang pengalaman dahsyat tenggelam dalam fiksi. Karakter utamanya menciptakan sendiri nickname-nya “Pi”, untuk menghindari ejekan di lingkungan sekolahnya, lalu ia terdampar di Samudra Pasifik, di atas sekoci bersama dengan seekor harimau Bengal dewasa, orang utan, hyena dan seekor zebra. Anak pemilik kebun binatang ini begitu cerdas dan telah mempelajari berbagai agama dengan caranya sendiri dan memahami dunia lewat analogi dari dunia dimana ia bertumbuh: kebun binatang.

Salah satu bagian yang saya kagumi adalah keberingasan binatang-binatang dan sikap mereka yang tidak terduga yang ditulis begitu detil. Semuanya terlihat dan terdengar jelas, bagaimana mereka saling bantai tanpa ampun, sehingga sekoci menjadi tempat bergenang darah, tulang dan penuh serpihan daging. Ketakutan Pi yang terus-menerus, frustasi, halusinasi; lalu harapan yang cepat berubah menjadi depresi, sama seperti ombak dan cuaca yang silih berganti.

Berbeda dengan bayangan awal saya (yang membuat saya tak kunjung membaca buku ini) dimana Pi dan binatang-binatang itu bahu-membahu saling menyelamatkan layaknya kisah pertualangan fantasi, Pi adalah kisah yang jauh dari fantasi. Pi adalah kisah nyata.

Inilah beberapa tematik yang memenuhi pikiran saya sejak membaca buku ini:

1. Kebenaran

Salah satu tema yang saya tangkap adalah bahwa kebenaran tidak pernah absolut. Di akhir kisah (sekali lagi: tulisan ini belepotan spoiler!) ketika Pi diwawancara oleh dua petugas dari Jepang, ia menawarkan dua cerita. Pertama adalah versi yang dikisahkan sepanjang buku ini (bersama-sama dengan harimau dan binatang lain) lalu versi kedua tanpa binatang, yang potensial lebih masuk akal. Pi memberikan petugas-petugas itu pilihan: cerita mana yang mereka yakini sebagai apa yang terjadi dan itulah yang akan menjadi kebenaran.

Selain itu, kisah ini kembali mengingkatkan kita tentang perlawanan yang terus-menerus antara hal praktis dengan imajinasi, mimpi atau mungkin disebut iman. Pi membawa tematik ini sampai ke ujung batas, dimana ia berjuang dengan hal-hal praktis setiap menitnya. Rasa haus, lapar, dan ancaman kematian yang terus-menerus dari si hariman dewasa, namun sepanjang penderitaan, tidak sekalipun spiritualitas Pi jatuh dan kemudian mati.

2. Kebebasan

Pi memberikan satu analogi yang menggelitik tentang kebebasan. Bukankah seringkali kita memandang kebun binatang itu ide negatif karena jelas-jelas melanggar kebebasan binatang yang seharusnya ada di alam bebas? Namun Pi menolak pemikiran itu. Apakah binatang yang tinggal di alam bebas dikatakan bebas bila setiap harinya mengalami ancaman predator dan berjuang mencari makan? Apa yang terjadi bila kita tiba-tiba menendang pintu rumah seseorang, dan meminta mereka keluar sambil berteriak, “Kalian bebas! Pergilah!”, apakah itu kebebasan?

Pada bagian utama, dimana Pi terapung-apung ditengah samudra yang maha luas, bukankah ia terbebas dari segala tanggung jawab terhadap siapapun? Bukankah ia terbebas dari apapun yang selalu membebani hidupnya? Tapi apakah itu dapat disebut kebebasan? Bukankah ia sedang berada pada sisi lain dari sebuah paradoks, dimana ia justru harus mempertaruhkan segalanya untuk keselamatannya?

Masih ada tematik lain yang saya rasakan dalam kisah ini, namun belum saya pikirkan secara detil. Saya masih tertarik dengan konsep agama, ilmu pengetahuan dan Tuhan itu sendiri dan keharusan untuk bertahan di tengah hantaman hal-hal praktis.

Namun diatas segalanya saya masih mengingat jelas tulisan Yann Martel di akhir catatanya sebelum kisah ini bahkan dimulai: “Kalau kita para warna negara, tidak memberikan dukungan kepada seniman-seniman kita, berarti kita mengorbankan imajinasi kita di altar realitas yang kejam, dan pada akhirnya kita jadi tidak percaya pada apapun, dan mimpi-mimpi kita tidak lagi berarti.” (Life of Pi, hal. 14)

Selasa, 25 Agustus 2009

Hormatin gua dong please!


“ANDA SOPAN, KAMI SEGAN”, pastinya pernah Anda baca di kompleks perumahan, gang atau warung, slogan ini masih ada sambungannya, tapi saya lupa, dan belum juga menemukannya di internet. Ada lagi yang lain, yang sempat muncul beberapa tahun lalu, bunyinya kira-kira begini, “MAU TANYA? MATIKKAN MESIN, TURUN”, ini untuk mereka yang berkendaraan roda empat dan hendak mau nanya jalan. Tulisan ini sering terlihat di area-area yang cukup ramai dilewati kendaraan dan sempat populer, sampai-sampai seorang teman dari Jawa, pernah mengolok-oloknya. Belum lagi, slogan yang kalo nggak salah punya satu keseblasan sepak bola, “LO ASIK GUA NYANTAI, LO USIK GUA BANTAI”, mungkin berawal dari becandaan belaka, tapi slogan ini kemudian merasuk ke ratusan mungkin ribuan pendukunganya menjadi semacam mentalitas.

Nggak bisa dipungkiri, negara kita memang pecinta slogan, dan terus terang saya sudah muak setengah idup membaca macem-macem slogan sepanjang jalan, mulai dari slogan sok suci kelompok manalah, slogan perdamaian yang sepertinya lomba “slogan ter-bull shit”, belum lagi saran dan nasehat pemerintah yang kok ya bego banget, tapi yang saya mau bahas lebih pada apa yang saya paparkan di paragraf satu, yakni tentang konsep menghormati.

Slogan-slogan yang ‘memaksa’ kita menghormati ini sudah lama membuat saya terheran-heran, ada teman yang bilang, ngapain dipikirin orang cuman tulisan aja, ada juga teman yang setuju dan mengatakan buat mereka (yang nempel/nulis) ini penting, dan mengingatkan orang lain akan pentingnya nilai-nilai kesopanan. Wow! Nilai-nilai kesopanan ya? Jadi yang namanya kesopanan harus diminta atau kasarnya ‘diancam’ seakan-akan orang lain harus diajarin dulu dengan sanksi supaya bisa hormatin kita. Waduh, pemahaman macem begini luar biasa bahayanya.

Masih ingatkah Anda, spanduk-spanduk “HORMATI ORANG YANG BERPUASA BUNG?” beberapa tahun lalu? Sekarang kayaknya sudah tidak ada ya, tapi saya masih menemukan tulisan “RESPECT RAMADHAN”, dan di twitter saya tergelitik dengan balasan orang iklan muda yang terkenal itu, “RESPECT RAMADHAN? HOW ABOUT EACH OTHER?”, satu pertanyaan ini benar-benar menjungkirbalikkan semuanya dengan sederhana.

Ya, bukankah rasa hormat datang secara alamiah? Dan bukankah kita juga tidak perlu sewot dan malah jadi ganas terhadap mereka yang (mungkin nggak sengaja) terlihat tidak menghormati kita? Kenapa kita jadi begitu sensitif ingin dihormati sih? Emangnya loo siapaa? Lagian kita sendiri sudah menghormati orang lain belum?

Orang asing yang mau masuk kompleks memang ada yang maling, tapi kan banyak juga tamu, teman, saudara, atau orang nyasar yang udah kesel cari alamat karena portal dimana-mana udah kayak main game, intinya ya kita bantulah. Orang yang nanya jalan, udah cape mungkin malah udah telat, ya kita yang datangi. Orang yang tidak berpuasa punya hak untuk tidak berpuasa, tidak perlu dia sesaat menjadi bagian dari nuansa surgawi orang lain.

Tidak perlulah juga di beberapa tempat karyawan diberi slogan sapa, senyum, salam, kayak polisi kita ini. Semuanya harus datang dari pemahaman sendiri kok, kalau ternyata keramahan itu penting, bagian dari etika kerja.

Saya ketawa kalo masuk restoran umumnya fast food atau yang coffee shop, dimana pramusajinya setengah berteriak seperti robot “SELAMAT PAGI, ADA YANG BISA DIBANTU, MAKAN SINI ATO BUNGKUS … TERIMA KASIH”. Intonasinya jelas sekali kalo dia hanya ngelakuin rutinitas, ini mirip gejala baca bareng yang pernah saya lewati di SD, dimana semua murid membaca bareng dengan intonasi seperti robot.

Hormatilah orang lain terlebih dahulu; Apa yang mau kita dapetin dari orang lain, lakuin juga dong itu ke orang lain, jangan selalu merasa satu level diatas orang lain. Gitu aja dah pendapat gue.

Rabu, 05 Agustus 2009

Menanti Saoirse Ronan dalam The Lovely Bones

"I think the first thing is, I want them to pronounce my name. There have been loads of people saying, how do you pronounce your name? It's Saoirse, it would be pronounced Sersha [it rhymes with inertia]." - Saoirse Ronan.

Waktu pertama kali liat gadis Irlandia ini di Atonement, saya sudah tertarik dengan matanya dan entah kenapa selalu jadi keingetan sorot mata tajam Macaulay Culkin di "The Good Son" waktu nonton di jaman VHS dulu. Dalam Atonement saya larut dengan karakter Saoirse yang bikin kesal tapi tetap polos ini. Sangat menarik! Dan sekarang kita punya kesempatan untuk menikmati permainannya lagi justru dalam film yang paling saya tunggu tahun ini, THE LOVELY BONES.

Pagi  ini, seperti biasa keeping-up dengan email di milis aja sudah mulai melelahkan, sekarang ditambah dengan update super-duper-ekstra cepat dari twitter, saya dikejutkan dengan kabar bahwa trailer The Lovely Bones sudah ada. Entah emang baru rilis hari ini, atau mungkin sudah sebelumnya, pokoknya saya sudah nunggu kabar dari Lovely ini,  dari sejak pertama kali baca kalau Peter Jackson memiliki hak cipta adaptasi buku ini dan ia menyebutkan sesuatu tentang kembali membuat film tanpa berada diatas "mesin-waktu" (seperti The Lord of the Rings dan King-Kong). 
Kenapa film ini menarik buat saya? Pertama, karena ingin melihat Peter Jackson kembali bergumul dengan hal yang sangat mendasar, storytelling. Saya ingat, jauh sebelum sadar akan film dan director, saya nonton The Heavenly Creatures, dan sangat menikmatinya. Dan dalam konteks sekarang dari semua film 'barat' yang saya tonton di bioskop tahun ini rasa-rasanya cuma WATCHMEN dan THE READER yang mantap.
Kembali ke Peter, dari ikutin paket DVD khusus untuk LOTR dan King-Kong memang terlihat kepiawaian Peter Jackson, Fran Walsh, Phillipa Boyens dalam menulis dan buat saya pribadi LOTR masih merupakan film terbaik sepanjang masa ... XD  (*udah bisa dengar nada males dari beberapa teman ...*)
Kedua, walau saya memang tidak berminat membaca novelnya dulu, sekilas-sekilas saya tangkap adanya adegan / penggambaran nuansa surga. Yang berarti, Peter dan tim-nya akan kembali dengan kekuatan visual effectnya, yang seperti yang lalu-lalu selalu berhasil melayani ceritanya, ketimbang menjadi pameran efek semata.
Tapi, seperti biasa kita nggak pernah tahu kapan film ini masuk ke Indonesia, tepat waktu atau justru kelempar ke 2010, atau tidak masuk sama sekali? Btw, break beberapa menit menulis blog, dan refresh twitter sudah ada news baru tentang District 9, film science-fiction low budget yang diproduseri Jackson. Rilisnya Agustus ini?