Kamis, 19 November 2009
Be Prepared!
Rabu, 28 Oktober 2009
Kamis, 10 September 2009
Menulis Sarinah
001.jpg)
Minggu, 06 September 2009
Tema-tema Pi

Saya nggak rutin membaca novel, tapi Life of Pi memang pengalaman dahsyat tenggelam dalam fiksi. Karakter utamanya menciptakan sendiri nickname-nya “Pi”, untuk menghindari ejekan di lingkungan sekolahnya, lalu ia terdampar di Samudra Pasifik, di atas sekoci bersama dengan seekor harimau Bengal dewasa, orang utan, hyena dan seekor zebra. Anak pemilik kebun binatang ini begitu cerdas dan telah mempelajari berbagai agama dengan caranya sendiri dan memahami dunia lewat analogi dari dunia dimana ia bertumbuh: kebun binatang.
Salah satu bagian yang saya kagumi adalah keberingasan binatang-binatang dan sikap mereka yang tidak terduga yang ditulis begitu detil. Semuanya terlihat dan terdengar jelas, bagaimana mereka saling bantai tanpa ampun, sehingga sekoci menjadi tempat bergenang darah, tulang dan penuh serpihan daging. Ketakutan Pi yang terus-menerus, frustasi, halusinasi; lalu harapan yang cepat berubah menjadi depresi, sama seperti ombak dan cuaca yang silih berganti.
Berbeda dengan bayangan awal saya (yang membuat saya tak kunjung membaca buku ini) dimana Pi dan binatang-binatang itu bahu-membahu saling menyelamatkan layaknya kisah pertualangan fantasi, Pi adalah kisah yang jauh dari fantasi. Pi adalah kisah nyata.
Inilah beberapa tematik yang memenuhi pikiran saya sejak membaca buku ini:
1. Kebenaran
Salah satu tema yang saya tangkap adalah bahwa kebenaran tidak pernah absolut. Di akhir kisah (sekali lagi: tulisan ini belepotan spoiler!) ketika Pi diwawancara oleh dua petugas dari Jepang, ia menawarkan dua cerita. Pertama adalah versi yang dikisahkan sepanjang buku ini (bersama-sama dengan harimau dan binatang lain) lalu versi kedua tanpa binatang, yang potensial lebih masuk akal. Pi memberikan petugas-petugas itu pilihan: cerita mana yang mereka yakini sebagai apa yang terjadi dan itulah yang akan menjadi kebenaran.
Selain itu, kisah ini kembali mengingkatkan kita tentang perlawanan yang terus-menerus antara hal praktis dengan imajinasi, mimpi atau mungkin disebut iman. Pi membawa tematik ini sampai ke ujung batas, dimana ia berjuang dengan hal-hal praktis setiap menitnya. Rasa haus, lapar, dan ancaman kematian yang terus-menerus dari si hariman dewasa, namun sepanjang penderitaan, tidak sekalipun spiritualitas Pi jatuh dan kemudian mati.
2. Kebebasan
Pi memberikan satu analogi yang menggelitik tentang kebebasan. Bukankah seringkali kita memandang kebun binatang itu ide negatif karena jelas-jelas melanggar kebebasan binatang yang seharusnya ada di alam bebas? Namun Pi menolak pemikiran itu. Apakah binatang yang tinggal di alam bebas dikatakan bebas bila setiap harinya mengalami ancaman predator dan berjuang mencari makan? Apa yang terjadi bila kita tiba-tiba menendang pintu rumah seseorang, dan meminta mereka keluar sambil berteriak, “Kalian bebas! Pergilah!”, apakah itu kebebasan?
Pada bagian utama, dimana Pi terapung-apung ditengah samudra yang maha luas, bukankah ia terbebas dari segala tanggung jawab terhadap siapapun? Bukankah ia terbebas dari apapun yang selalu membebani hidupnya? Tapi apakah itu dapat disebut kebebasan? Bukankah ia sedang berada pada sisi lain dari sebuah paradoks, dimana ia justru harus mempertaruhkan segalanya untuk keselamatannya?
Masih ada tematik lain yang saya rasakan dalam kisah ini, namun belum saya pikirkan secara detil. Saya masih tertarik dengan konsep agama, ilmu pengetahuan dan Tuhan itu sendiri dan keharusan untuk bertahan di tengah hantaman hal-hal praktis.
Namun diatas segalanya saya masih mengingat jelas tulisan Yann Martel di akhir catatanya sebelum kisah ini bahkan dimulai: “Kalau kita para warna negara, tidak memberikan dukungan kepada seniman-seniman kita, berarti kita mengorbankan imajinasi kita di altar realitas yang kejam, dan pada akhirnya kita jadi tidak percaya pada apapun, dan mimpi-mimpi kita tidak lagi berarti.” (Life of Pi, hal. 14)
Selasa, 25 Agustus 2009
Hormatin gua dong please!
Saya ketawa kalo masuk restoran umumnya fast food atau yang coffee shop, dimana pramusajinya setengah berteriak seperti robot “SELAMAT PAGI, ADA YANG BISA DIBANTU, MAKAN SINI ATO BUNGKUS … TERIMA KASIH”. Intonasinya jelas sekali kalo dia hanya ngelakuin rutinitas, ini mirip gejala baca bareng yang pernah saya lewati di SD, dimana semua murid membaca bareng dengan intonasi seperti robot.
Hormatilah orang lain terlebih dahulu; Apa yang mau kita dapetin dari orang lain, lakuin juga dong itu ke orang lain, jangan selalu merasa satu level diatas orang lain. Gitu aja dah pendapat gue.
Rabu, 05 Agustus 2009
Menanti Saoirse Ronan dalam The Lovely Bones
"I think the first thing is, I want them to pronounce my name. There have been loads of people saying, how do you pronounce your name? It's Saoirse, it would be pronounced Sersha [it rhymes with inertia]." - Saoirse Ronan.
