Kamis malam, 4 Februari 2010 sekitar 620 orang (lebih) ‘berteduh’ dari hujan dan angin dingin di sebuah bangunan kecil di Jalan Palmerah, pas depan kantor Kompas Gramedia. Dalam ruangan itu suasananya hangat sekali, beberapa duduk di kursi pada bagian belakang, sisanya lesehan santai.
Ya, malam itu Jubing Kristianto duduk bersama kami dan menceritakan pengalamannya sejak awal sekali berkenalan dengan musik. Diawali dengan lagu Nina Bobo tanpa sound system yang menurut MC (sahabat Jubing) Pak Ananda, memang disengaja karena Nina Bobo harusnya dibawakan dengan keheningan ha ha…
Pak Ananda memang punya talenta dalam membawakan suasana yang segar, dan sempat juga omongan Pak Ananda didramatisir dengan iringan oleh Jubing. Lucu!
Di pertengahan acara Pak Ananda sempat bercanda, “… saya yang bicara, Jubing yang main gitar, that’s the real friendship!”, mungkin nggak persis begitu, tapi ngerti maksudnya kan? Ucapan itu membuat ketawa seluruh orang yang sedang berteduh itu.
Malam itu rasanya untuk pertama kalinya Jubing tidak selalu memainkan sebuah lagu dengan penuh, kadang hanya mencuplik saja, karena Jubing banyak membagikan ingatan, perasaan dan hubungannya dengan berbagai musik yang dikenalnya sejak awal. Semacam biografi singkatlah. Bahkan ia ceritakan bagaimana lagu The Beatles Hey Jude sampai masuk ke dalam mimpi dengan visualnya seekor sapi.
Selain menceritakan beberapa ‘sejarahnya’ tentang lagu-lagu itu, ia juga membuat penonton menyadari bahwa selama ini salah satu ringtone yang akrab didengar (kalau nggak salah sempet jadi joke dalam film Spielberg The Lost World) adalah cuplikan dari lagu komponis gitar terkenal Fransisco Tarrega yang berjudul The Grand Vals. Tentunya semua ‘teduh-ers’ tertawa geli ketika cuplikan yang sangat akrab itu terdengar. Untuk komposisi ini Jubing hanya mencuplik karena katanya, “… kalau dimainkan full, bisa sampai malam sekali konsernya, namanya juga Grand…”. Disini saya embed videonya (YouTube) biar tau yang dimaksud.
Yang berkesan buat saya, Jubing juga memainkan cukup banyak komposisi yang pasti sangat akrab dengan mereka yang belajar gitar klasik, buat saya ini membawa saya kembali ke jaman SMA waktu saya juga pertama kali belajar main gitar klasik (saat itu saya beruntung mendapat guru yang bernama Pak Suyatna Dohani, yang membuat gitar tampak begitu mengasyikkan). Jubing memainkan Rosita (Tarrega), juga salah satu musik favorit saya dari F. Sor, lalu ada Asutrias yang dimainkan full karena pemintaan penonton, lalu ada lagu penuh kenangan Under The Greenwood Tree (kalau nggak salah ini dulu di buku Classic 1) dan pastinya lagu kebangsaan para gitars Romance de Amor Haha, this piece brings me way back!
Ketimbang bosan menunggu hujan reda, Jubing mengajak pada teduh-ers untuk juga bernanyi, dan Jubing mengiringi hanya dengan menggunakan satu jari tangan kirinya, hanya dua chord. Belum cukup itu? Jubing juga mengajak teduh-ers jadi backing vocal untuk beberapa lagu. Intinya pada malam itu, mungkin untuk pertama kalinya di seluruh dunia ada pertunjukkan musik dengan sekitar 600 backing vocals.
Jalan Hidup Enam Senar, adalah momen musikal yang membawa kita terbang menembus berbagai zaman dan genre musik, mulai dari klasik, dangdut, jazz, country, pop, bahkan keroncong yang diakui Jubing musik yang paling sulit dimainkan di gitar.
0 comments:
Poskan Komentar